๐ Pondok Pesantren Khusus Ilmu Hikmah
SitusWeb Resmi: Ponpes Teknologi Riau. 6. Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur'an Al Kahfi. Kredit Foto: Rido Irwansyah (google.com) Sesuai namanya, di pesantren ini santri akan fokus untuk menghafalkan Al-Qur'an. Namun pesantren ini bukan untuk jenjang dewasa, melainkan khusus untuk anak-anak jenjang sekolah dasar.
Banyaknyasiswa yang ingin mondok mengubah keberadaan Musholla Al-Hikmah menjadi Pesantren pada tahun 1988 setelah dibuatkan asrama khusus untuk santri putra dan putri. Empat sampai lima tahun setelah pesantren berdiri kemudian dibangun asrama untuk santri putri sebanyak tiga lokal dan santri putra empat lokal.
Sehinggapada tahun 2004 Koppontren al hikmah telah melakukan pembaharuan dokumen-dokumen (surat-surat berharga) lainnya yaitu : 1) Surat Keterangan terdaftar dari Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) -525.000 tanggal 24 September 2004.
IjazahanAmalan Wirid-Ilmu Hikmah dan Tarekat di Pesantren. Amalan ini untuk umum-kolektif yang harus dijalankan khusus di pesantren sebagai bagian dari wirid yang dijalankan oleh para santri. Malik Purwokerto (Sadziliyah dan Naqsyabandiyah) dengan jaringan para muridnya yang luas; KH. Abdul Jalil Mustaqim di Pondok Peta Tulungagung dan
jugabelajar ilmu pengetahuan alam dan teknologi terkini demi masa depan gemilang. Learn more. Previous Next. Selamat Datang. Ini adalah Portal Informasi Akademik bagi Santri-santriwati Pondok Pesantren Jabal Hikmah. Dengan Website Informasi ini diharapkan bisa meningkatkan layanan pendidikan kepada seluruh santri-santriwati, Wali Santri, Guru
PondokBuntet Pesantren Cirebon; Pondok Pesantren Ilmu Al Qur'an; Ma'had Qudsiyyah Kudus; (Kumpulan Kajian Islam Tausyiah MP3 Cerita Hikmah Nasyid dan Radio Online) EDISI KHUSUS KAJIAN ISLAM AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH BERSAMA HABIB NOVEL BIN MUHAMMAD ALAYDRUS.
Antaralain bela diri, kepramukaan, drumband, qashidah, pengembangan jurnalistik, dll. Terdapat juga program khusus tahfidz dan pendalaman kitab kuning yang dapat dipilih santri ketika menjadi santri di pesantren ini. Saat ini Pondok Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung menyelenggarakan pendidikan tingkat MTS-MA dan program khusus tahfidz.
PondokPesantren Roudhotut Tolibin asuhan K.H. Minan Zuhri, dimana Kang Masrukhan mempelajari berbagai jenis Ilmu Hikmah, fiqh, salafiyah, tauhid dan ilmu warisan Raden Asnawi. Pondok Pesantren Manarul Huda asuhan K.H. Abdullah Khafidz, Kyai Hamzah Nawawi, dan Kyai Syaiful Hadi, dimana Kang Masrukhan mempelajari ilmu-Ilmu Hikmah, ilmu kitab
DiIndonesia masyarakat umum memandang pondok pesantren sebagai komunitas khusus yang ideal terutama dalam bidang kehidupan moral atau perilaku. Pondok pesantren dianggap sebagai tempat mencari ilmu dan mengabdi, tetapi pengertian ilmu menurut mereka tanpak berbeda dengan dalam pengertian dalam arti saince. Ilmu bagi mereka
. Sepintas, dunia diplomasi dan dunia pesantren seolah merupakan dua dunia yang berbeda. Hampir tak terbayangkan bahwa dua dunia itu ternyata bisa bertaut dan menyatu. Namun demikianlah yang terjadi. Kesempatan langka ini terwujud berkat kegiatan diklat Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Kementerian Luar Negeri, yang mana total sejumlah 36 orang peserta diterjunkan ke lingkungan Pesantren Gontor yang namanya telah tersohor. Sebanyak 18 orang diplomat muda laki-laki ditempatkan mengajar mengenai diplomasi dan isu-isu internasional di pondok Gontor khusus laki-laki yang terletak di Ponorogo, sekaligus lokasi dari kampus pusat Universitas Darussalam UNIDA Gontor. Sedangkan kami, 18 orang diplomat muda perempuan, ditugaskan dengan mandat serupa di pondok pesantren khusus putri Gontor, Mantingan, Ngawi. Saya adalah salah satu dari Ngawi terletak 2 jam perjalanan berkendara dari kota Solo. Setibanya di sana, kesan pertama yang sangat terasa adalah panas terik mataharinya yang sangat menyengat. Namun panasnya udara saat itu perlahan berganti dengan hembusan kedamaian ketika memasuki gerbang Pondok Gontor. Saat itu hari Jumat, dan pondok ramai dengan kunjungan para orang tua yang merindukan anak-anaknya yang sedang berjuang menuntut ilmu di pondok modern itu. Beberapa gazebo hijau yang berjajar dan gelaran tikar orang-orang di depan pintu gerbang, menampilkan raut bahagia orang-orang yang berbagi rasa setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya tidak bertemu. Pertemuan santriwati dengan keluarganya. Foto Din banyak hal yang dapat dipelajari dari kegiatan tinggal dan mengajar di pondok ini. Namun beberapa hal yang paling menonjol untuk dipelajari bagi kebanyakan orang dewasa seperti saya dan rekan-rekan atau bahkan masyarakat luas, antara lain kesederhanaan, keikhlasan, kerukunan, kedisiplinan dan semangat belajar yang tinggi. Kesederhanaan mungkin bukan hal yang sulit bagi banyak orang di negara berkembang seperti Indonesia, namun bagi sebagian kalangan, kesederhanaan barangkali justru bisa juga menjadi tantangan yang sangat menarik bagi sebagian orang. Banyak orang apalagi kaum muda telah terbiasa atau dibiasakan dengan penggunaan berbagai teknologi misalnya. Namun, teman-teman santriwati di pondok gontor harus terbiasa dengan kesederhanaan dimana ada pelarangan penggunaan telepon seluler, tidak hanya itu tapi juga pembatasan jumlah pakaian, dan hal lainnya. Mungkin ada banyak pro-kontra tentang pembatasan ini, karena saat ini telepon seluler dapat menjadi sarana untuk mendapatkan pengetahuan, namun di sisi lain, keberadaan telepon seluler dipandang juga memiliki mudharat apalagi jika digunakan oleh santriwati yang kesehariannya memiliki serangkaian kegiatan. Pembatasan pakaian antara lain ditujukan juga untuk pembiasaan santriwati mengurus diri sendiri, mengelola waktu dan tenaga untuk mencuci pakaiannya. Dengan terbiasa dengan kesederhanaan, mereka akan lebih mudah beradaptasi dengan kondisi seperti apapun. Kesederhanaan juga dapat meningkatkan semangat mereka untuk berjuang menjadi lebih baik. Bicara keikhlasan, tentu diperlukan para santriwati mengingat mereka tinggal dengan berbagai macam orang dengan latar belakangnya, sifat dan kebiasaan masing-masing. Ikhlas memahami orang lain, ikhlas beribadah, ikhlas melaksanakan tugas yang dibebankan, antara lain beberapa hal yang ditanamkan dalam benak para hanya para santriwati, para pengajar pun ternyata juga memiliki jiwa keikhlasan yang tinggi, ingin berbagi ilmu mengabdi sekaligus mendapatkan ridho dan barokah dari Yang Maha Kuasa tanpa perhitungan gaji tetap, berbeda dari sistem penggajian guru-guru di sekolah lain pada umumnya. Pondok pesantren merupakan salah satu ciri khas pendidikan di Indonesia, yang tidak diperoleh di negara lain. Banyaknya para santriwati dari berbagai suku dari berbagai daerah, serta perbedaan karakter mengajarkan bagaimana mereka dapat hidup bersama dengan rukun. Dalam pengaturan penempatan tinggal di asrama yang tiap ruangannya memuat sekitar 25 orang, diupayakan agar terdiri dari berbagai suku. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, pondok Gontor seringkali dikunjungi oleh para santri dari beberapa negara tetangga. Seperti Malaysia, Thailand. Pada hari pertama kunjungan kami berkesempatan bertemu dengan sekitar 20 orang santriwati asal Malaysia yang baru saja mulai mondok hingga awal bulan Ramadhan nanti. Bersama para santriwati dari Malaysia setelah kegiatan kuliah subuh. Foto Muhsinin dengan para mahasiswi Universitas Darussalam yang telah mengenyam pendidikan di pondok Gontor sejak lulus SD, beberapa orang menyampaikan โPondok ini seperti rumah kedua bagi saya, lingkungan yang penuh persaudaraan membuat saya sangat betah tinggal disiniโ. Menjawab penasaran saya mengenai adanya orang-orang yang melarikan diri, para santriwati tidak menafikan adanya fakta tersebut, namun mereka menyampaikan adanya sebagian banyak yang ingin kembali karena rasa persaudaraan yang melekat. Kedisiplinan dan Semangat BelajarโJika anda ingin beribadah sebanyak-banyaknya datanglah ke Mekkah. Jika anda ingin ilmu sebanyak-banyaknya datanglah ke Mesir. Jika anda ingin pendidikan sebanyak-banyaknya datanglah ke Gontor,โ kalimat ini terpampang pada spanduk-spanduk di halaman pondok. Tidak salah, karena pondok modern Gontor memiliki berbagai mata pelajaran, baik terkait ilmu agama meliputi pemahaman tafsir, hadits, hingga hafalan Al Quran, maupun berbagai ilmu lainnya meliputi geografi, biologi dan berhitung. Pendidikan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris juga terlihat menonjol, dan dua bahasa asing ini wajib diterapkan sehari-hari dalam kegiatan mengajar maupun dalam percakapan antar santriwati. Bisa dibayangkan kan kelancaran bahasa asing mereka? Bahasa Indonesia hanya dapat digunakan oleh para santriwati yang baru masuk sebelum mereka mendapatkan pendidikan bahasa asing di pondok. Kedisiplinan tentunya juga menjadi ciri kehidupan di pondok pesantren yang harus dibiasakan oleh para santriwati dalam menaati peraturan. Sekalinya mereka melanggar, maka harus berhadapan dengan sanksi yang diterapkan, seperti menghafalkan ayat Al Quran sambil berdiri ketika datang terlambat. Persiapan ujian, para santriwati belajar dimanapun. Foto mereka belajar sangat terasa saat saya tinggal di pondok karena sedang masa ujian. Pemandangan anak-anak santriwati sedang belajar terlihat di sekeliling pondok. Mahasiswi lainnya, Din Rusyda Arini, menyampaikan kepada kami yang ingin tahu alasannya betah mengenyam pendidikan di Gontor selama 12 tahun, โBagi saya pribadi, karena pondok selalu memberikan dan memfasilitasi kegiatan yang mengandung banyak pembelajaran, sehingga kami selalu haus untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi dan lagiโ.Mahasiswi jenjang universitas mempelajari simulasi sidang negosiasi multilateral PBB dari para Diplomat muda. Foto percakapan dengan para diplomat muda, tidak sedikit bahkan yang menunjukkan minatnya untuk melanjutkan studinya kelak di luar negeri untuk memperdalam ilmu kedokteran, ilmu teknik, atau lainnya, ada juga yang menyatakan ketertarikannya menjadi diplomat setelah lulus dari jenjang kuliah. Semangat belajar mereka menumbuhkan harapan akan masa depan Indonesia yang berada di tangan para generasi muda milenial terkini. Semoga mereka kelak menjadi pembangun bangsa yang berwawasan luas, bijaksana dan bermartabat.
Ilmu tafsir merupakan salah satu cabang ilmu dalam Islam yang memiliki kedudukan mulia nan luhur, serta sangat penting. Dalam diskursus peradaban Islam, ilmu tafsir merupakan media terbaik untuk memahami makna dan kandungan Al-Qurโan secara utuh dan benar. Bahkan, dalam sejarahnya, ilmu tafsir memiliki perjalanan yang sangat panjang hingga para ulama menulisnya dengan teliti, kemudian disusun dengan sangat sistematis. Definisi Ilmu TafsirSebelum dijelaskan rangkaian sejarahnya, ada pentingnya bagi penulis untuk menjelaskan definisi ilmu tafsir terlebih dahulu. Dengannya, kita akan mengetahui ruang kajian ilmu tersebut dalam Islam, serta memiliki pemahaman yang lebih dalam tentangnya. Imam Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin as-Suyuthi wafat 911 H, dalam Itmamud Dirayah mendefinisikan ilmu tafsir sebagai berikut, โIlmu tafsir adalah sebuah metodologi tentang cara memahami Al-Qurโan. Metodologi itu mencakup hal-hal penting yang ada dalam Al-Qurโan, mulai dari, 1 sebab-sebab diturunkannya; seperti ayat Makkah makiyah, ayat Madinah madaniyah, ayat perjalanan safari ayat perumahan hadari ayat yang diturunkan pada malam hari layali, begitu juga ayat yang diturunkan pada siang hari nahari; 2 sanadnya, seperti mutawatir, ahad sampai riwayat yang syad; 3 lafalnya, seperti huruf mad, idgham, idhar dan lainnya; 4 makna ayatnya, seperti ayat yang menunjukkan majaz, hakikat, muradif, musytarak dan lainnya; dan 5 hukumnya, seperti hukum-hukum yang umum dan husus, nasakh-mansukh dan lainnya.โ as-Suyuthi, Itmamud Dirayah li Qurra-in Nuqayah, [Bairut, Darul Kutubil Ilmiah, cetakan pertama 1985, tahqiq Ibrahim al-Ajusi], halaman 20. Berdasarkan definisi di atas, dapat dipahami bahwa wilayah kajian ilmu tafsir adalah mencakup semua pembahasan Al-Qurโan secara tematik dan sistematis. Tidak ada satu ayat pun yang ada dalam Al-Qurโan tidak dibahas dalam ilmu tafsir, semuanya dibahas secara terperinci dan detail. Sejarah Pembukuan Ilmu TafsirPada abad pertama Islam masa Nabi Muhammad dan para sahabat, belum ditemukan pembahasan dan pembukuan ilmu tafsir dengan semua ketentuannya. Ketika Nabi Muhammad masih hidup, para sahabat memiliki referensi yang sangat otoritas, yaitu Rasulullah. Semua permasalahan tentang Al-Qurโan langsung diputuskan olehnya berdasarkan wahyu ilahi yang diturunkan kepadanya. Darinya, penjelasan Rasulullah kepada para sahabat perihal Al-Qurโan tidak membutuhkan ilmu tafsir, karena sudah dicukupkan dengan wahyu yang turun kepadanya. Begitu juga pada masa sahabat. Belum ditemukan ilmu-ilmu yang membahas secara khusus tentang Al-Qurโan. Pemahaman dan cara baca mereka masih kuat dan utuh dengan mengacu pada penjelasan Rasulullah secara langsung saat bersamanya. Tidak hanya itu, di samping mereka juga melihat historis sebab-sebab ayat yang diturunkan asbabun nuzul kepada Rasulullah saat itu, mereka juga memiliki acuan secara khusus, yaitu Rasulullah, perihal cara yang benar dalam mengartikan ayat. Oleh karenanya, ilmu tafsir pada masa sahabat belum dibahas karena saat itu memang tidak dibutuhkan. Seiring berjalannya waktu, pasca-generasi sahabat, penyebaran Islam yang semakin luas, dan banyaknya pemeluk Islam yang semakin beragam; dari berbagai bangsa dengan tipikal sosial dan geografis yang plural, terjadilah asimilasi bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lainnya. Akibatnya, banyak umat Islam yang memahami Al-Qurโan dengan serampangan tanpa metode dan tanpa ilmu. Mereka hanya bermodalkan rasionalitas yang cenderung memiliki kesalahan. Dari sinilah, metodologi memahami dan cara membaca Al-Qurโan mulai dibutuhkan. Tepat pada abad kedelapan, Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Umar bin Ruslan al-Bulqini lahir 762 โ wafat 824 H menulis dan membukukan ilmu tafsir, yang kemudian dikenal dengan kitab Mawaqiโul Ulum min Mawaqiโin Nujum. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Alawi bin Sayyid Abbas al-Maliki. Ia mengatakan ูููููู ุนูููู
ู ููููููุณู ููู
ู ุฃููููู ุนูููู ุชูุฃููููููู ูููููู ููุงูุญูุฏู ู
ููู ุงููู
ูุชูููุฏููู
ูููููุ ุญูุชููู ุฌูุงุกู ุดูููุฎู ุงููุฅูุณูููุงู
ู ุฌูููุงูู ุงูุฏููููู ุงูุจููููููููููุ ููุฏูููููููู ูููููููุญููู ููููุฐููุจููู ููุฑูุชููุจููู ููู ููุชูุงุจู ุณูู
ููุงูู ู
ูููุงููุนู ุงููุนูููููู
ู ู
ููู ู
ูููุงููุนู ุงููููุฌูููู
ู Artinya, โIa ilmu tafsir merupakan ilmu berharga, tidak aku ketahui suatu kodifikasi tentangnya ilmu tafsir, bagi salah satu ulama mulai dari zaman dahulu, sehingga Syaikhul Islam Jalaluddin al-Bulqini datang, kemudian mengodifikasikannya, memperluas pembahasannya, membenarkan dan menyususnnya, dalam suatu kitab yang menamainya dengan kitab Mawaqiโul Ulum min Mawaqiโin Nujum.โ Sayyid Alawi al-Maliki, Faidhul Khabir wa Khalashatut Taqrir ala Nahjit Taisir, [al-Haramain], halaman 9. Ungkapan senada juga disampaikan oleh Imam as-Suyuthi. Menurutnya, adanya ilmu tafsir memang sangat dibutuhkan oleh semua umat Islam, bahkan ia menegaskan bahwa di antara bentuk tidak adanya empati para ulama kepada umat Islam secara umum adalah membiarkan Al-Qurโan dipahami dengan serampangan, hal itu karena tidak adanya kodifikasi kitab secara khusus yang memberikan pedoman untuk membaca dan memahami Al-Qurโ Al-Itqan fi Ulumil Qurโan, As-Suyuthi mengatakan ููุฅูููู ู
ูู
ููุง ุฃูููู
ููู ุงูู
ูุชูููุฏููู
ููููู ุชูุฏูููููููููุ ุญูุชููู ุชูุญููููู ููู ุขูุฎูุฑู ุงูุฒููู
ูุงูู ุจูุฃูุญูุณููู ุฒูููููุฉูุ ุนูููู
ู ุงูุชููููุณูููุฑู ุงูููุฐูู ูููู ููู
ูุตูุทูููุญู ุงููุญูุฏูููุซูุ ููููู
ู ููุฏูููููููู ุฃูุญูุฏู ููุง ููู ุงููููุฏูููู
ู ููููุง ููู ุงููุญูุฏูููุซู ุญูุชููู ุฌูุงุกู ุดูููุฎู ุงููุฅูุณูููุงู
ู ุงูุจูููููููููู Artinya, โDan sungguh, termasuk dari bagian ilmu yang dilalaikan oleh ulama klasik untuk mengodifikasikannya, sampai nampak jelas di akhir zaman, dengan bentuk yang paling baik, yaitu ilmu tafsir, ia bagaikan ilmu musthalah hadits, maka tidak ada seorang ulama pun yang mengodifikasikannya, baik ulama klasik maupun kontemporer, sampai datang Syaikhul Islam al-Bulqini.โ Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulumil Qurโan, [Haiatul Mishriah lil Kitab, cetakan pertama 1974, tahqiq Muhammad Abul Fadl Ibrahim], juz 1, halaman 21. Dari penjelasan di atas sangat jelas, bahwa Imam al-Bulqini selain sebagai salah satu fuqaha yang sangat disegani pada masanya. Ia juga menjadi salah satu pembaharu mujaddid Islam pada abad kedelapan. Jejak yang ia tinggalkan di antaranya, adalah kitab-kitab fiqih yang yang pernah ia tulis. Selain itu, ia juga meninggalkan jejak yang sangat berharga, yaitu ilmu tafsir. Dengan adanya sumbangsih yang sangat berharga ini, potensi-potensi kesalahpahaman perihal Al-Qurโan lebih berkurang. Perkembangan Ilmu TafsirLahirnya Imam Al-Bulqini tentu memberikan kebanggan tersendiri bagi umat Islam, sebagai bukti bahwa ilmu-ilmu Allah akan semakin luas jika ditelaโah lebih mendalam. Di saat yang sama, umat Islam tidak memiliki pedoman secara khusus dalam mengartikan Al-Qurโan dengan benar, al-Bulqini lahir sebagai sosok yang memberikan jalan terang untuk menghindari kesalahan dalam mengartikan dan membaca Al-Qurโan. Setelah Imam al-Bulqini sukses dalam menuliskan kitab secara khusus yang menjelaskan ilmu tafsir, ia mendapatkan sambutan hangat dan tepuk tangan yang sangat meriah dari para ulama saat itu dan setelahnya, bahkan sampai saat ini. Ilmu tafsir yang ditulis olehnya, memiliki perkambangan yang sangat pesat. Hal itu sebagaimana penuturan Sayyid Alawi al-Maliki ููููููุฐูุง ููููู ู
ูุณูุชูููุจูุทูุ ูููููููู ููููููููุง ุซูู
ูู ููููุซูุฑู ููุตูุบูููุฑูุง ุซูู
ูู ููููุจูุฑู Artinya, โDemikian perkembangan semua kodifikasi ilmu tafsir pada mulanya berupa kitab yang kecil dan ringkas, kemudian berkembang menjadi banyak dan padat.โ Sayyid Alawi al-Maliki, Faidhul Khabir wa Khalashatut Taqrir ala Nahjit Taisir, halaman 10. Tidak hanya itu, al-Bulqini juga menjadi teladan bagi para ulama saat itu, bahkan setelahnya, untuk mengodifikasikan kitab-kitab yang menjelaskan ilmu tafsir lainnya, di antaranya adalah murid beliau, Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Beliau menulis dua kitab ilmu tafsir yang sangat populer, yaitu 1 at-Tahbir fi Ilmit Tafsir; dan 2 al-Itqan fi Ulumil Qurโan. Dua kitab yang menjelaskan ilmu tafsir secara luas ini, tidak lepas dari sumbangsih Imam al-Bulqini. Tidak sedikit as-Suyuthi mengikutip perihal cara-cara gurunya dalam menulis ilmu tafsir. Syekh Muhammad Ali asy-Syaukani al-Yamani wafat 1250 H, menulis ilmu tafsir dengan nama kitab Fathul Qadir al-Jamiโ baina Fannai Riwayah wad Dirayah min Ilmit Tafsir. Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, juga menulis kitab ilmu tafsir dengan nama Faidhul Khabir wa Khalashatut Taqrir ala Nahjit Taisir, dan beberapa ulama lainnya. Alhasil, dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut, 1 pada tahap pertama, tepatnya pada masa Rasulullah, belum ditemukan pengodifikasian ilmu tafsir, karena saat itu, para sahabat memiliki referensi yang sangat otoroitas, yaitu Rasulullah, sehingga mereka tidak membutuhkan ilmu tafsir untuk memahami Al-Qurโan; 2 pada tahap kedua, tepatnya pada masa sahabat, juga belum ditemukan pengodifikasian ilmu tafsir, karena saat itu mereka memprioritaskan Al-Qurโan dan hadits Rasulullah, serta mengacu pada nash Al-Qurโan dan hadits yang mereka pahami. Tahap pertama dan kedua terus berlanjut sampai pada abad ke-7 dan ke-8, tepatnya pada masa Imam al-Bulqini; 3 pada tahap ketiga ini, Imam al-Bulqini menjadi pionir dalam melakukan kodifikasi ilmu tafsir; dan 4 pada tahap keempat ini, serta sejalan dengan perkembangan zaman, kodifikasi ilmu tafsir sudah mulai mencapai kesempurnaan, hal itu ditandai dengan munculnya murid Imam al-Bulqini, yaitu Imam as-Suyuthi, yang juga berhasil menulis dua kitab khusus perihal ilmu tafsir. Dengan demikian, umat Islam memiliki acuan dalam membaca dan memahami Al-Qurโan. Sunnatullah
pondok pesantren khusus ilmu hikmah